June 12, 2013

Sekolah untuk Semua

Di tengah kesibukan teman-teman kita yang sedang mencari sekolah ke jenjang berikutnya, masih banyak teman-teman kita yang lain yang masih belum dapat menyelesaikan pendidikannya di SD. Bahkan, ada pula yang belum memiliki kesempatan untuk sekolah sama sekali lho mesikipun telah menginjak usia sekolah. Idealnya, semua penduduk di Indonesia wajib memperoleh pendidikan yang layak, minimal sembilan tahun. 

Banyak sekali masalah yang timbul dalam pendidikan di Indonesia. Minimnya tenaga pengajar, jumlah sekolah, serta biaya orang tua turut menjadi beberapa kendala dalam pendidikan di Indonesia. Pembangunan dan peningkatan mutu sekolah dirasa hanya terjadi di beberapa kota saja.

Inilah yang membuat saya terus berpikir bagaimana agar sekolah-sekolah di Indonesia memiliki kualitas yang tak kalah dengan sekolah-sekolah di negara-negara maju. Yang terpenting adalah sekolah di Indonesia harus merata dan terbuka bagi semua orang. Artinya, wajib belajar sembilan tahun bukanlah sebuah kalimat belaka, namun ada realisasinya.

Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam menunjang tujuan wajib belajar sembilan tahun adalah pemerataan fasilitas. Masih banyak sekolah di pelosok negeri ini yang belum memiliki fasilitas yang layak. Atap gedung yang bocor, meja dan kursi yang penuh dengan coretan, bahkan masih digunakannya papan tulis kapur menunjukkan betapa ‘pilih kasih’-nya pemerintah di Indonesia terhadap penyediaan fasilitas. 

Bagaimana para siswa dapat menyerap ilmu yang diberikan apabila kondisi ruang kelas mereka tidak nyaman? Perhatian mereka pastilah akan terfokus pada kondisi kelas dibanding pelajaran yang sedang berlangsung. 

Ruang kelas yang ideal tidak perlu mewah. Yang penting adalah nyaman, besih, dan rapi. Selain itu perlu pula diperhatikan kelengkapan alat tulis kelas. Seperti spidol, penghapus papan tulis, serta lainnya. Apabila diberlakukan pemerataan perbaikan kondisi kelas seluruh sekolah di Indonesia, saya yakin ini dapat menarik minat anak-anak untuk bersekolah, khususnya mereka yang ada di pedesaan. 

Selain fasilitas dalam kondisi fisik sekolah, sekolah juga harus mampu memfasilitasi hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan siswa. Misalnya, menambahkan ekstrakulikuler kewirausahaan.

Dewasa ini banyak bermunculan entrepreneur muda yang sukses meskipun tidak memiliki background pendidikan ekonomi. Dengan adanya ekstrakulikuler ini diharapkan akan menambah jumlah entrepreneur muda yang berhasil di negeri ini.  Dalam hal ini sekolah berperan dalam memfasilitasi adanya tenaga pendidik yang mampu dan layak serta berpengalaman. Setelah itu, sekolah dapat memamerkan hasil kerja siswanya dengan membuat bazaar yang terbuka untuk umum atau mengundang pelajar dari sekolah lain. 
 
Hal penting yang harus diperhatikan lainnya adalah hubungan guru dengan orang tua. Di sinilah peran penting wali kelas. Hingga kini masih muncul anggapan bahwa sekolah secara tidak langsung telah melonggarkan pengawasan orang tua terhadap anak. Anggapan ini muncul karena orang tua menganggap anak mereka telah mendapat pengawasan dari guru atau wali kelas mereka. Namun pada praktiknya, wali kelas tidak terlalu mengurus masalah pribadi anak, khususnya di jenjang SMA. Mereka kebanyakan hanya mengurus masalah anak yang berkaitan dengan sekolah.

Untuk itu, penting bagi orang tua untuk selalu berkomunikasi terhadap guru terutama wali kelas. Begitu juga sebaliknya. Sebaiknya orang tua tidak perlu sungkan untuk berkonsultasi kepada guru sekolah apabila anak sedang menghadapi masalah.  Harus ada hubungan baik antara orang tua dengan guru. Bila perlu, adakanlah acara perkumpulan santai antara orang tua dan guru untuk meningkatkan keakraban serta menghilangkan rasa sungkan antara keduanya. Apabila telah terjalin hubungan baik antara orang tua dengan guru, mereka pasti dapat bekerja sama dalam meningkatkan prestasi dan menjauhkan anak dari perilaku yang tidak diinginkan.

Tak hanya hubungan guru dengan orang tua. Hubungan antarsiswa pun perlu terjaga dengan baik. Namun sayang, saat ini sering kita dengar konflik yang terjadi antarsiswa. Konflik tersebut pun terkadang disebabkan oleh masalah yang sepele.

Oleh karena itu, layaknya hubungan antara orang tua dan guru, perlu diadakan kegiatan yang meningkatkan kesetiakawanan para siswa. Seperti  kegiatan class meeting yang sudah dimiliki oleh hampir seluruh sekolah. Selain itu, sekolah juga harus mendukung kegiatan-kegiatan nonakademis yang diajukan para siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan kreativitasnya dalam bidang yang diminatinya sehingga mereka dapat mencetak prestasi lebih banyak lagi.

Dengan terlaksananya semua hal yang telah saya sebutkan, saya harap sekolah-sekolah di Indonesia dapat lebih maju dalam mencetak generasi yang unggul. Harapan saya juga agar pemerintah dapat meningkatkan perhatiannya pada sekolah-sekolah yang berada di daerah. Dengan begitu, kualitas SDM di Indonesia tidak akan diragukan lagi. Harapan agar Indonesia menjadi negara yang maju dalam berbagai aspek pun bukanlah suatu hal yang mustahil.  



 

3 comments:

larassati sekar said...

Setuju banget nih ka sama artikel kaka dan sedikit kritiknya... Rata-rata Indonesia hanya memperhatikan beberapa sekolah saja, sedangkan masih banyak sekolah yang belum diperhatikan :D
Sukses deh dalam kontesnya...
Salam :)

Anindita Alkarisya said...

hi there! makasih ya udah baca dan kasih comment :)
amiiinn aminn hehehe makasih lagii haha

@rifankim said...
This comment has been removed by the author.